Sesekali gorden jendela kamarku tersingkap
oleh tiupan angin malam yang masih berkeliaran. Mungkin mereka adalah bagian
lain yang menikmati keheningan malam ini. Mereka begitu tegar dalam gelap,
mereka mampu bertahan dalam sepi.
Mereka masih bisa berjalan nakal menyusuri setiap
sudut malam, berbeda dengan aku. Aku yang hampir kehilangan seluruh hidupku
sejak tiga hari yang lalu. Sejak ibu memutuskan untuk pergi meninggalkan rumah
ini. Meninggalkan ayah, aku, dan adikku.
Aku tak seperti angin yang masih bisa terbang
bebas kesegala penjuru ruang hidup. Aku hanyalah tubuh yang telah mati. Ya,
mati. Hanya saja nafasku belum terhenti. Padahal selalu aku berharap akan hal
itu.
Aku terlalu lugu untuk dihadapkan masalah
seperti ini. Aku masih kecil. Aku masih 15 tahun. Belia, aku hanyalah seorang
anak yang baru menjajaki masa SMA. Aku tidak akan mengerti apa-apa. Ayah selalu
menawar kalut di wajahku dengan kata-kata seperti itu. Dan setelah mendengar
kata-kata bujukan dari ayah, aku akan segera tersenyum. Pertengkaran yang
selalu terjdi antara ayah dan ibu akan segera hilang dari ingatanku.
Tapi itu dulu, dua tahun yang lalu. Dan tidak
untuk sekarang. Aku bukan anak kecil lagi. Setidakknya aku akan menemukan
sebuah pertanyaan besar yang menggayut di benakku. Kenapa ibu pergi
meninggalkan rumah, meninggalkan kami dengan alasan yang sedikitpun tidak mampu
aku pahami. Tiga hari yang lalu. **
Ayah menyiapkan dua piring nasi goreng di atas
meja makan. Berulangkali ia memanggil Asih,
adikku untuk keluar dari kamar dan segera sarapan bagi. “Nanti telat nak. Apa
Asih gak malu nanti diketawain teman-temannnya”, ujar ayah sembari mengisyaratkan
juga kepadaku untuk menghampri meja makan.
Butiran nasi itu satu persatu mulai masuk ke mulutku.
Tapi terasa begitu sulit untuk ku telan. Terasa ada sesuatu yang menahannya di
kerongkonganku. Ku pandangi Asih yang menghabiskan nasinya dengan begitu lahap.
Ada rasa iri, ingin rasanya aku seperti Asih saja, kembali kanak-kanak dan tak
tau apa-apa. Tidak mengerti apapun, sehingga tidak ada kepahitan yang aku
rasakan.
Usai sarapaan, aku dan Asih bergegas ke
sekolah. “Belajar dengan benar” adalah pesan ayah yang sudah kekal di
telingaku, mungkin juga di telinga Asih. ***
Tiga bulan. Enam pun berlalu. Kini aku mulai
melaksankan ujian akhir sekolah. Namun, tanda –tanda ibu akan pulang belum juga
ada. Sementara Ayah dengan segudang kalut yang menggayut di wajahnya selalu
setia menemani dan menyemangatiku untuk belajar.
Dua hari lagi ujian akan selesai. Hampir
seluruh teman-temanku membicarakan kuliah di mana dan mau bimbingan belajar
kemana. Sementara aku hanya bisa tersenyum bila ada teman-temanku yang bertanya
demikian.
Ya, aku tersenyum. Tersenyum untuk apa, aku
juga tidak tau. Mungkin untuk menertawakan kesialanku. Mungkin untuk balas
mencibiri cibiran dari orang-orang di sekelilingku. Atau mungkin juga tersenyum
dari pada terus-terusan memaki ibu.
Ah, entahlah. Yang penting aku tersenyum.
Setidaknya aku sedikit lebih kelihatan tegar di mata ayah. Walaupun dia juga
bakalan tau kalau aku sebenarnya rapuh.
Hari terakhir ujian. Setelah ujian selesai aku
bergegas pulang ke rumah. Namun aku tidak menemukan siapa-siapa. Pintu tertutup
rapat dan digembok dari luar. Aku coba berpikir kemana ayah dan Asih
siang-siang begini. Biasanya ayah akan pulang untuk makan siang.
Dalam kebingunganku, tetanggaku datang memberi
kabar, bahwa ayah dan Asih sedang pergi kerumah sakit. Sesaat aku sangat cemas
karena aku kira Asih atau ayah yang sakit. Tapi setelah aku tau kalau ibu ku
yang sakit rasa cemas ku hilang, dan kita entah apa yang sedang ku rasakan.
Untuk apa dia pulang. Apa karena dia sakit.
Apa karena sudah tidak ada lagi yang akan merawatnya di sana sehingga ia
kembali ke sini. Semua perasaan gegap di dadaku. Benci dan marahku terasa memuncak.
Tiba-tiba dalam keterpakuanku, sebuah mobil
mewah berhenti di depan rumahku. Seorang ibu-ibu dengan dandanan menor dan
serba warna-warni turun dari mobil dan melangkah ke arahku.
Kamu aini?
Ia. Jawabku. Saya teman ibu kamu. Sekarang dia
sedang di rumah sakit. Ia meminta saya untuk menjempu kamu. Aku hanya diam tidak
mngucapkn apa-apa. Aku mangikuti langkah orang yang sama sekali belum aku kenal
itu.
Sesampainya d rumah sakit, ku temukan Asih yang
sedang menangis di pelukan ayah. Ayah dengan ketidakberdayaannya terus membujuk
Asih supaya diam. Nenek yang dulunya selalu menyalahkan ayah atas kepergian ibu
juga tertunduk penuh air mata di salah satu pojok ruangan itu.
Kata dokter, ibu sakit karena tertular
penyakit berbahaya. Ibu juga sudah terlambat untuk diselamatkan. Dan ibu mati
secara tak wajar. Ah, apakah aku harus peduli itu.
Kini semuanya nampak meratap di ruangan itu.
begitu juga ibu-ibu tadi. Hanya aku yang tetap diam mematung, sepertinya tidak
ada air mata yang mau aku keluarkan. Bukankah air mataku sudah kering meratapi
ibu selama beberapa bulan ini. Ibu sudah pergi dari beberapa bulan yang lampau.
Jadi untuk apa menangisinya sekarang. Aku masih terus mematung menyanksikan
keadaan yang aneh menurutku.
Sekitar jam empat sore, ibu selesai
dimakamkan. Semua keluarga yang datang melayat telah kembli ke rumahnya
masing-masing. Tak terkecuali nenek, bahkan untuk menyemangati aku dan Asih
saja tidak. Mungkin karena ada keperluan atau apa aku juga tidak pernah
berpikir untuk itu.
Lain, ibu yang menjemput aku tadi. Ia mampir
lagi ke rumah. Aku saksikan ia bicara serius dengan ayah di depan rumah. Ayah
menyuruhnya masuk dan menyuruhku keluar untuk duduk bersamanya. “Ini ada pesan
dari Almarhum..” Serrr.. jantungku
menggelegar ketika ia sebut nama ibu. Kanapa? Entahlah.
“Sebelum sakitnya lebih parah, ia menitipkan
sejumlah perhiasan ini kepadaku. Juga kartu rekening ini. Ia berpesan untuk memberikan
semua ini kepada Tere dan Asih.
Dan itu, mobil yang di luar juga merupakan
peninggalan almarhum. Dan pesannya kalau ia sudah tiada maka mobil itu dijual
untuk biaya masuk kuliah anak pertamanya. Katanya anak pertamanya harus masuk
sekolah kedokteran tahun ini.
Tiba-tiba, pecah sudah pertahananku yang sudah
aku perjuangkan dari sepulang sekolah tadi. Aku menangis. Aku menangis. Yah,
sekarang aku menangis. Entah untuk apa.