Selasa, 21 Januari 2014

Hadiah untu Kakak

               Pukul 23.30 WIB, aku kembali menginjakkan kaki di rumah ini. Rumah dimana aku, nenek, kakek, dan adik perempuanku menetap selama ini.
Seperti biasa, ketika aku memberi kabar saat aku pulang, nenek selalu menunuggu sampai aku datang memanggil untuk dibukakan pintu. Dia begitu betah, dan tak pernah bosan untuk menunggu dan membukakan pintu untukku. Dan seperti biasanya juga, setiap aku menginjakkan kaki ke rumah ini, rasa kecewa melihat keadaan rumah selalu menghampiri. Keadaan rumah yang berantakkan selalu menyapa setiap jengkal sorotan mataku.
Setelah melepas sepatu, aku langsung masuk ke kamarku. Kamar yang hanya aku yang mau menempatinya setelah ibu pergi dari rumah ini. Aku hempaskan tubuhku ke tempat tidur yang sepertinya telah lama terlupakan sehingga sepreinya mulai berwarna kusam. Sejenak memandang langit-lagit kamar, lalu aku bangun dan mengganti pakaianku yang terasa sangat gerah kerena telah aku gunakan dari tadi pagi.   

Ketika hendak menggantungkan bajuku, tiba-tiba pandanganku tertuju kepada setumpuk buku yang berada di atas meja kecil di sudut kamar. Buku pelajaran adik perempuanku dengan beberapa buku tanpa bungkus yang dibalit kertas yang bertulisan JUARA II di atasnya. “Hmmm,” tanpa sadar aku tersenyum. Senyum apa? Entahlah. Mungkin senyum bangga. Seketika kesalku dengan keadaan rumah yang selalu berantakkan setiap kali aku pulang ke rumah langsung terobati dengan  tulisan JUARA II itu. “Terimakasih ya Allah, engkau telah mengabulkan doa ibuku,” syukurku dalam hati.
Ya, dulu dia memang menelponku dan mengatakan kalau dia juara kelas, dia juga menagih janji hadiah dariku. Sepertinya dia telah memulainya sekarang. Adikku, aku pasti mempunyai saingan yang hebat di rumah ini. ya, kali ini aku akan berpacu dengannya. Adik yang dulu sering aku olok-olok dan mengatakkan nya malas dan bod*h. Kini tak lagi. ***

Meta, begitu ia dipanggil dari kecil. Gadis remaja dengan rambut hitam mengkilau yang terurai hingga pinggangnya. Dia memiliki kulit coklat dan lesung pipit yang selalu menghiasi setiap senyumnya.
Sejak kecil, dia adalah teman berantam terhebatku. Usianya terpaut enam tahun dari usiaku. Tapi dia memiliki cara yang tidak biasa untuk melawan setiap kata-kata dariku. Mungkin karena setiap kata-kataku adalah kalimat perintah. Ahaha,, aku memang seorang kakak yang luar biasa.. J

Ketika meta mulai bersekolah, aku mulai mencemoohnya dengan nilai-nilai yang ada di bukunya. Terutama saat akhir semester, aku selaluu memamerkan hasil belajarku kepadanya. Juara kelas yang selalu menjadi milikku menjadi caraku untuk mengolok-oloknya dan mengatakan kalau dia adalah anak yang tidak bisa apa-apa.
Karena kami tinggal bersama nenek dan dan kakek, dan mereka pun selalu sibuk mengurusi ladang dan hewan ternaknya, sepulang sekolah hanya kami yang ada di rumah. Berada di rumah pada saat yang bersamaan adalah hal yang dapat dikatakan tidak akan terjadi antara aku dan Meta. Aku yang akan pergi keluar duluan atau dia yang kabur duluan. Kalau tidak demikian, hanya akan ada remote control TV yang setengah hancur karena saling direbutkan, atau semua CD akan rusak karen saling dilempar.
Meta adalah anak yang bod*h, mungkin itu adalah kata-kata yang tidak pantas untuk disampaikan seorang kakak kepada adikknya. Tapi bagaimana tidak, Ketika semesternya hampir berakhir, dan dia akan melaksanakan ujian akhir national sekolah dasar (UN), aku memandang tidak ada keseriusan darinya untuk belajar dengan baik. Dia hanya sibuk main dan menghabiskan waktunya untuk keluyuran kerumah teman-temananya. Waktu itu aku memang tidak bisa mengontrolnya sebagaimana yang dipesankan  oleh orangtua kami kepada saya. karena saat itu saya juga tengah sibuk mempersiapkan UN Dan persiapan untuk masuk perguruan tinggi.
Tapi di luar dugaanku, Meta mendapatkan nilai tidak terlalu jelek di ijazahnya dan dia lulus UN. “Akhirnya kau akan jadi anak SMP,” ucapku kala itu. ketika masa liburannya dimulai, aku tidak Tau lagi apa yang terjadi dengannya. Apakah dia tengah belajar mempersiapkan diri untuk masuk ke sekolah menengah atau tengah asyik main seperti biasanya, aku tidak tau. Karena saat itu aku sedang berada di kota. Aku mengikuti bimbingan belajar untuk persiapan tes SNMPTN nantinya.
Dua bulan berlalu, bimbingan belajarku pun bearkhir. Saat aku pulang kerumah, aku mendapat kabar dari kakek bahwa Meta akan melanjutkan ke madrasah negeri. “Yo ndak ba’a do, kalau nyo sanggup cubo lah,” ujarku kepada kakek kala itu.
Hari itu, (aku lupa tanggal berapa), pagi-pagi sekali Meta membangunkan ku. Ah, betapa kesalnya aku kala itu. Tidur yang sengaja aku sambung setelah selesai shalat subuh malah diganggu oleh bocah itu. Dengan malas aku tetap bangun, dan Meta pun langsung merengek untuk diantarkan ke madrasah dimana ia kan mendaftar.
Aku bersiap-siap, dan dia mengatakan kalau dia harus melengkapi dulu syarat pendaftarannya dan menjemputnya ke SD dimana ia bersekolah. Aku menuruti saja apa yang dia katakan, karena kalau sedikit saja aku menolak, dia akan memohon dengan setengah menangis. Itu hal yang paling tidak aku suka.
Hingga akhirnya aku mengantarkannya sampai ke gerbang dimana dia akan mendaftar. “Masuklah, one disiko se,” ujarku waktu itu. Sepertinya dia kurang yakin untuk pergi sendirian, tapi dia tetap beranjak meninggalkanku yang masih duduk di atas motor.  Awalnya aku memang membiarkan dia sendirian, namun akhirnya aku mengikutinya dan mencarinya dari belakang. Aku sedikit ragu juga, karena aku jug tau, adikku ini sedikit tidak pedean. Heheh J

Hari yang melelahkan saat itu, aku mengurus segala persyaratan dan administrasi pendaftaran Meta. Dan tesnya akan dilaksanakan besok harinya.
Huh, aku akan datang lagi ke sekolah itu esok harinya. Tapi kali ini aku berusaha untuk menjadi kakak yang baik, setidaknya untuk Meta kali ini.
Malamnya aku mengajak meta untuk belajar, aku mengetes semua hapalan ayatnya, hapalan shalatnya, bacaan alquranya, dan pelajaran umum lainnya.
Dan hari yang ditunggu-tunggu Meta pun tiba. Hari itu ia akan melaksanakan tes masuk ke madrasah. Dengan wajah yang sedikit cemas dia menaiki motor yang akan kami pakai ke madrasah tersebut. “Ndak usah cameh, kan kau pandai shalat samo mengaji tu, madarash itu yang dites ma, (Gak usah cemas, kamu kan bisa shalat dan mengaji, di madrasah itu nantinya yang akan ditesnya) ucapku selama di perjalanan waktu itu. Aku berusaha untuk menenangka hatinya.
Tiga jam berlalu. Aku sudah diambang rasa bosan untuk tetap menunggu, dan rasa ingin pulang terus mengusikku. Namun wajah cemas dan gugup yang terlihat dari Meta membuat ku tetap bertahan di tempat aku berdiri waktu itu. Sesekali aku mendekatinya dan mengatakan gak usah cemas kepadanya. Hingga ahirnya tibalah giliran Meta. “Meta Martin .S,” salah satu panitia penerima murid baru memanggil namanya.
“Baca bismillah,” pesanku kepadanya sebelum ia memasuki ruangan tes. Aku berdiri di depa pintu sepanjang meta melakukan tes. Tes pengetahuan agama dan umum dilakukan sekaligus saat itu, sesekali ia pun menatapku yang tengah berdiri dan aku membalasnya dengan senyuman untuk menyemangatinya.
Satu setengah jam berlalu, tes pun selesai. Meta keluar ruangan denga perasaan yang tampak sangat lega. Aku juga tau kalau dia dapat menyelesaikan tes dengan baik. Menunggu waktu seminggu untuk mengetahui kelulusan adalah waktu yang terasa sangat lama bagiku, apalagi bagi Meta. Akhirnya hasil yang ditunggu-tunggu pun keluar. ‘Meta Martin .S dinyatakan lulu’s. Alhamdulillah yaallah, betapa bersyukurnya Meta, aku dan kelurga waktu itu.
Semester satu dan dua di madrasah berlalu begitu saja oleh meta. Tanpa prestasi dan tanpa peringkat kelas. Dan ketika ia dan nenek mengunjungiku ke kota waktu itu, aku menertawakannya di depan teman-temanku dan mengatakan kalau dia tidak pernah menempatii sepuluh besar sekalipun semenjak dari sekolah dasar.
Namun dia hanya senyum, dan mengatakan dia akan membuktikan kalau dia juga bisa juara kelas . Aku pun hanya tertawa kecil dan menjanjikan hadiah kepadanya kalau dia juara kelas, karena aku juga tidak yakin dengan kata-katanya waktu itu.
Namun, suatu hal yang tidak pernah aku duga sebelumnya benar-benar terjadi. Beberapa minggu setelah itu, Meta menghubungiku dari rumah dan mengatakan kalau dia juara kelas, dia juga menagih hadiah yang pernah aku janjikan kepadanya..
Huuhf,, aku lega, aku tersenyum bahagia. Aku menepati janjiku dengan setumpuk rasa bangga kepadanya. ***

Dan saat aku menatap semangatnya pagi ini. Aku merasa sangat terpacu. Meta bahkan bangun lebih awal dariku, shalat lebih awal dariku, dan berangkat ke sekolah dengan senyuman penuh semangat dan harapan.
Sepertinya dia benar-benar akan menjadi musuh terbaikku. Aku bisa kuliah diperguruan tinggi negeri, dia pun juga harus begitu. Dan akupun mulai merangkai mimpi tentangnya. Suatu saat aku akan mengunjunginya ke Belanda. Karena dia akan melaksanakan studi disana. Meta akan belajar di Belanda. Meta Martin .S, adikku. (Upssst, aku tak seharusnya memaksakan kehendakku kepadanya. Bagaimananpun juga, dia lebih berhak untuk menentukan pilihan hidunpnya).

Dan kali ini, aku benar-benar menunggunya untuk cepat-cepat pulang  dari sekolah. Aku punya seribu kisah yang ingin aku sampaikan kepadanya. Tentang hadiah juga. Hehee J


GOOD LUCK Adikku... J J J