Kamis, 17 Oktober 2013

IBU

Malam kian membisu, langit pun mulai mati.  Tak ada lagi bulan yang bergelayut di atas  sana. Kelam. Pekat benar-benar kian menyelimuti.
Sesekali gorden jendela kamarku tersingkap oleh tiupan angin malam yang masih berkeliaran. Mungkin mereka adalah bagian lain yang menikmati keheningan malam ini. Mereka begitu tegar dalam gelap, mereka mampu bertahan dalam sepi.
Mereka masih bisa berjalan nakal menyusuri setiap sudut malam, berbeda dengan aku. Aku yang hampir kehilangan seluruh hidupku sejak tiga hari yang lalu. Sejak ibu memutuskan untuk pergi meninggalkan rumah ini. Meninggalkan ayah, aku, dan adikku.
Aku tak seperti angin yang masih bisa terbang bebas kesegala penjuru ruang hidup. Aku hanyalah tubuh yang telah mati. Ya, mati. Hanya saja nafasku belum terhenti. Padahal selalu aku berharap akan hal itu.
Aku terlalu lugu untuk dihadapkan masalah seperti ini. Aku masih kecil. Aku masih 15 tahun. Belia, aku hanyalah seorang anak yang baru menjajaki masa SMA. Aku tidak akan mengerti apa-apa. Ayah selalu menawar kalut di wajahku dengan kata-kata seperti itu. Dan setelah mendengar kata-kata bujukan dari ayah, aku akan segera tersenyum. Pertengkaran yang selalu terjdi antara ayah dan ibu akan segera hilang dari ingatanku.
Tapi itu dulu, dua tahun yang lalu. Dan tidak untuk sekarang. Aku bukan anak kecil lagi. Setidakknya aku akan menemukan sebuah pertanyaan besar yang menggayut di benakku. Kenapa ibu pergi meninggalkan rumah, meninggalkan kami dengan alasan yang sedikitpun tidak mampu aku pahami. Tiga hari yang lalu. **
Ayah menyiapkan dua piring nasi goreng di atas meja makan. Berulangkali ia memanggil  Asih, adikku untuk keluar dari kamar dan segera sarapan bagi. “Nanti telat nak. Apa Asih gak malu nanti diketawain teman-temannnya”, ujar ayah sembari mengisyaratkan juga kepadaku untuk menghampri meja makan.
Butiran nasi itu satu persatu mulai masuk ke mulutku. Tapi terasa begitu sulit untuk ku telan. Terasa ada sesuatu yang menahannya di kerongkonganku. Ku pandangi Asih yang menghabiskan nasinya dengan begitu lahap. Ada rasa iri, ingin rasanya aku seperti Asih saja, kembali kanak-kanak dan tak tau apa-apa. Tidak mengerti apapun, sehingga tidak ada kepahitan yang aku rasakan.
Usai sarapaan, aku dan Asih bergegas ke sekolah. “Belajar dengan benar” adalah pesan ayah yang sudah kekal di telingaku, mungkin juga di telinga Asih. ***
Tiga bulan. Enam pun berlalu. Kini aku mulai melaksankan ujian akhir sekolah. Namun, tanda –tanda ibu akan pulang belum juga ada. Sementara Ayah dengan segudang kalut yang menggayut di wajahnya selalu setia menemani dan menyemangatiku untuk belajar.
Dua hari lagi ujian akan selesai. Hampir seluruh teman-temanku membicarakan kuliah di mana dan mau bimbingan belajar kemana. Sementara aku hanya bisa tersenyum bila ada teman-temanku yang bertanya demikian.
Ya, aku tersenyum. Tersenyum untuk apa, aku juga tidak tau. Mungkin untuk menertawakan kesialanku. Mungkin untuk balas mencibiri cibiran dari orang-orang di sekelilingku. Atau mungkin juga tersenyum dari pada terus-terusan memaki ibu.
Ah, entahlah. Yang penting aku tersenyum. Setidaknya aku sedikit lebih kelihatan tegar di mata ayah. Walaupun dia juga bakalan tau kalau aku sebenarnya rapuh.
Hari terakhir ujian. Setelah ujian selesai aku bergegas pulang ke rumah. Namun aku tidak menemukan siapa-siapa. Pintu tertutup rapat dan digembok dari luar. Aku coba berpikir kemana ayah dan Asih siang-siang begini. Biasanya ayah akan pulang untuk makan siang.
Dalam kebingunganku, tetanggaku datang memberi kabar, bahwa ayah dan Asih sedang pergi kerumah sakit. Sesaat aku sangat cemas karena aku kira Asih atau ayah yang sakit. Tapi setelah aku tau kalau ibu ku yang sakit rasa cemas ku hilang, dan kita entah apa yang sedang ku rasakan.
Untuk apa dia pulang. Apa karena dia sakit. Apa karena sudah tidak ada lagi yang akan merawatnya di sana sehingga ia kembali ke sini. Semua perasaan gegap di dadaku. Benci dan marahku terasa memuncak.
Tiba-tiba dalam keterpakuanku, sebuah mobil mewah berhenti di depan rumahku. Seorang ibu-ibu dengan dandanan menor dan serba warna-warni turun dari mobil dan melangkah ke arahku.
Kamu aini?
Ia. Jawabku. Saya teman ibu kamu. Sekarang dia sedang di rumah sakit. Ia meminta saya untuk menjempu kamu. Aku hanya diam tidak mngucapkn apa-apa. Aku mangikuti langkah orang yang sama sekali belum aku kenal itu.
Sesampainya d rumah sakit, ku temukan Asih yang sedang menangis di pelukan ayah. Ayah dengan ketidakberdayaannya terus membujuk Asih supaya diam. Nenek yang dulunya selalu menyalahkan ayah atas kepergian ibu juga tertunduk penuh air mata di salah satu pojok ruangan itu.
Kata dokter, ibu sakit karena tertular penyakit berbahaya. Ibu juga sudah terlambat untuk diselamatkan. Dan ibu mati secara tak wajar. Ah, apakah aku harus peduli itu.
Kini semuanya nampak meratap di ruangan itu. begitu juga ibu-ibu tadi. Hanya aku yang tetap diam mematung, sepertinya tidak ada air mata yang mau aku keluarkan. Bukankah air mataku sudah kering meratapi ibu selama beberapa bulan ini. Ibu sudah pergi dari beberapa bulan yang lampau. Jadi untuk apa menangisinya sekarang. Aku masih terus mematung menyanksikan keadaan yang aneh menurutku.
Sekitar jam empat sore, ibu selesai dimakamkan. Semua keluarga yang datang melayat telah kembli ke rumahnya masing-masing. Tak terkecuali nenek, bahkan untuk menyemangati aku dan Asih saja tidak. Mungkin karena ada keperluan atau apa aku juga tidak pernah berpikir untuk itu.
Lain, ibu yang menjemput aku tadi. Ia mampir lagi ke rumah. Aku saksikan ia bicara serius dengan ayah di depan rumah. Ayah menyuruhnya masuk dan menyuruhku keluar untuk duduk bersamanya. “Ini ada pesan dari Almarhum..” Serrr..  jantungku menggelegar ketika ia sebut nama ibu. Kanapa? Entahlah.
“Sebelum sakitnya lebih parah, ia menitipkan sejumlah perhiasan ini kepadaku. Juga kartu rekening ini. Ia berpesan untuk memberikan semua ini kepada Tere dan Asih.
Dan itu, mobil yang di luar juga merupakan peninggalan almarhum. Dan pesannya kalau ia sudah tiada maka mobil itu dijual untuk biaya masuk kuliah anak pertamanya. Katanya anak pertamanya harus masuk sekolah kedokteran tahun ini.
Tiba-tiba, pecah sudah pertahananku yang sudah aku perjuangkan dari sepulang sekolah tadi. Aku menangis. Aku menangis. Yah, sekarang aku menangis. Entah untuk apa.






Tidak ada komentar:

Posting Komentar