Hadiah untu Kakak
Seperti biasa, ketika aku memberi
kabar saat aku pulang, nenek selalu menunuggu sampai aku datang memanggil untuk
dibukakan pintu. Dia begitu betah, dan tak pernah bosan untuk menunggu dan
membukakan pintu untukku. Dan seperti biasanya juga, setiap aku menginjakkan
kaki ke rumah ini, rasa kecewa melihat keadaan rumah selalu menghampiri. Keadaan
rumah yang berantakkan selalu menyapa setiap jengkal sorotan mataku.
Setelah
melepas sepatu, aku langsung masuk ke kamarku. Kamar yang hanya aku yang mau
menempatinya setelah ibu pergi dari rumah ini. Aku hempaskan tubuhku ke tempat
tidur yang sepertinya telah lama terlupakan sehingga sepreinya mulai berwarna
kusam. Sejenak memandang langit-lagit kamar, lalu aku bangun dan mengganti
pakaianku yang terasa sangat gerah kerena telah aku gunakan dari tadi pagi.
Ketika hendak menggantungkan
bajuku, tiba-tiba pandanganku tertuju kepada setumpuk buku yang berada di atas
meja kecil di sudut kamar. Buku pelajaran adik perempuanku dengan beberapa buku
tanpa bungkus yang dibalit kertas yang bertulisan JUARA II di atasnya. “Hmmm,” tanpa
sadar aku tersenyum. Senyum apa? Entahlah. Mungkin senyum bangga. Seketika
kesalku dengan keadaan rumah yang selalu berantakkan setiap kali aku pulang ke
rumah langsung terobati dengan tulisan JUARA
II itu. “Terimakasih ya Allah, engkau telah mengabulkan doa ibuku,” syukurku
dalam hati.
Ya, dulu dia
memang menelponku dan mengatakan kalau dia juara kelas, dia juga menagih janji
hadiah dariku. Sepertinya dia telah memulainya sekarang. Adikku, aku pasti
mempunyai saingan yang hebat di rumah ini. ya, kali ini aku akan berpacu dengannya.
Adik yang dulu sering aku olok-olok dan mengatakkan nya malas dan bod*h. Kini
tak lagi. ***
Meta, begitu
ia dipanggil dari kecil. Gadis remaja dengan rambut hitam mengkilau yang
terurai hingga pinggangnya. Dia memiliki kulit coklat dan lesung pipit yang
selalu menghiasi setiap senyumnya.
Sejak kecil, dia adalah teman
berantam terhebatku. Usianya terpaut enam tahun dari usiaku. Tapi dia memiliki
cara yang tidak biasa untuk melawan setiap kata-kata dariku. Mungkin karena
setiap kata-kataku adalah kalimat perintah. Ahaha,, aku memang seorang kakak
yang luar biasa.. J
Ketika meta mulai bersekolah, aku
mulai mencemoohnya dengan nilai-nilai yang ada di bukunya. Terutama saat akhir
semester, aku selaluu memamerkan hasil belajarku kepadanya. Juara kelas yang
selalu menjadi milikku menjadi caraku untuk mengolok-oloknya dan mengatakan kalau
dia adalah anak yang tidak bisa apa-apa.
Karena kami tinggal bersama nenek
dan dan kakek, dan mereka pun selalu sibuk mengurusi ladang dan hewan ternaknya,
sepulang sekolah hanya kami yang ada di rumah. Berada di rumah pada saat yang
bersamaan adalah hal yang dapat dikatakan tidak akan terjadi antara aku dan Meta.
Aku yang akan pergi keluar duluan atau dia yang kabur duluan. Kalau tidak demikian,
hanya akan ada remote control TV yang setengah hancur karena saling direbutkan,
atau semua CD akan rusak karen saling dilempar.
Meta adalah
anak yang bod*h, mungkin itu adalah kata-kata yang tidak pantas untuk
disampaikan seorang kakak kepada adikknya. Tapi bagaimana tidak, Ketika semesternya
hampir berakhir, dan dia akan melaksanakan ujian akhir national sekolah dasar (UN),
aku memandang tidak ada keseriusan darinya untuk belajar dengan baik. Dia hanya
sibuk main dan menghabiskan waktunya untuk keluyuran kerumah teman-temananya. Waktu
itu aku memang tidak bisa mengontrolnya sebagaimana yang dipesankan oleh orangtua kami kepada saya. karena saat
itu saya juga tengah sibuk mempersiapkan UN Dan persiapan untuk masuk perguruan
tinggi.
Tapi di luar dugaanku, Meta
mendapatkan nilai tidak terlalu jelek di ijazahnya dan dia lulus UN. “Akhirnya
kau akan jadi anak SMP,” ucapku kala itu. ketika masa liburannya dimulai, aku
tidak Tau lagi apa yang terjadi dengannya. Apakah dia tengah belajar mempersiapkan
diri untuk masuk ke sekolah menengah atau tengah asyik main seperti biasanya,
aku tidak tau. Karena saat itu aku sedang berada di kota. Aku mengikuti
bimbingan belajar untuk persiapan tes SNMPTN nantinya.
Dua bulan berlalu, bimbingan
belajarku pun bearkhir. Saat aku pulang kerumah, aku mendapat kabar dari kakek
bahwa Meta akan melanjutkan ke madrasah negeri. “Yo ndak ba’a do, kalau nyo
sanggup cubo lah,” ujarku kepada kakek kala itu.
Hari itu, (aku lupa tanggal
berapa), pagi-pagi sekali Meta membangunkan ku. Ah, betapa kesalnya aku kala
itu. Tidur yang sengaja aku sambung setelah selesai shalat subuh malah diganggu
oleh bocah itu. Dengan malas aku tetap bangun, dan Meta pun langsung merengek
untuk diantarkan ke madrasah dimana ia kan mendaftar.
Aku bersiap-siap, dan dia
mengatakan kalau dia harus melengkapi dulu syarat pendaftarannya dan menjemputnya
ke SD dimana ia bersekolah. Aku menuruti saja apa yang dia katakan, karena kalau
sedikit saja aku menolak, dia akan memohon dengan setengah menangis. Itu hal
yang paling tidak aku suka.
Hingga akhirnya aku mengantarkannya
sampai ke gerbang dimana dia akan mendaftar. “Masuklah, one disiko se,” ujarku
waktu itu. Sepertinya dia kurang yakin untuk pergi sendirian, tapi dia tetap
beranjak meninggalkanku yang masih duduk di atas motor. Awalnya aku memang membiarkan dia sendirian,
namun akhirnya aku mengikutinya dan mencarinya dari belakang. Aku sedikit ragu
juga, karena aku jug tau, adikku ini sedikit tidak pedean. Heheh J
Hari yang melelahkan saat itu,
aku mengurus segala persyaratan dan administrasi pendaftaran Meta. Dan tesnya akan
dilaksanakan besok harinya.
Huh, aku akan datang lagi ke sekolah
itu esok harinya. Tapi kali ini aku berusaha untuk menjadi kakak yang baik,
setidaknya untuk Meta kali ini.
Malamnya aku mengajak meta untuk
belajar, aku mengetes semua hapalan ayatnya, hapalan shalatnya, bacaan
alquranya, dan pelajaran umum lainnya.
Dan hari yang ditunggu-tunggu Meta
pun tiba. Hari itu ia akan melaksanakan tes masuk ke madrasah. Dengan wajah
yang sedikit cemas dia menaiki motor yang akan kami pakai ke madrasah tersebut.
“Ndak usah cameh, kan kau pandai shalat samo
mengaji tu, madarash itu yang dites ma, (Gak usah cemas, kamu kan bisa
shalat dan mengaji, di madrasah itu nantinya yang akan ditesnya)” ucapku selama di perjalanan waktu itu.
Aku berusaha untuk menenangka hatinya.
Tiga jam
berlalu. Aku sudah diambang rasa bosan untuk tetap menunggu, dan rasa ingin
pulang terus mengusikku. Namun wajah cemas dan gugup yang terlihat dari Meta membuat
ku tetap bertahan di tempat aku berdiri waktu itu. Sesekali aku mendekatinya
dan mengatakan gak usah cemas kepadanya. Hingga ahirnya tibalah giliran Meta. “Meta
Martin .S,” salah satu panitia penerima murid baru memanggil namanya.
“Baca bismillah,” pesanku kepadanya
sebelum ia memasuki ruangan tes. Aku berdiri di depa pintu sepanjang meta
melakukan tes. Tes pengetahuan agama dan umum dilakukan sekaligus saat itu,
sesekali ia pun menatapku yang tengah berdiri dan aku membalasnya dengan
senyuman untuk menyemangatinya.
Satu setengah jam berlalu, tes
pun selesai. Meta keluar ruangan denga perasaan yang tampak sangat lega. Aku
juga tau kalau dia dapat menyelesaikan tes dengan baik. Menunggu waktu seminggu
untuk mengetahui kelulusan adalah waktu yang terasa sangat lama bagiku, apalagi
bagi Meta. Akhirnya hasil yang ditunggu-tunggu pun keluar. ‘Meta Martin .S
dinyatakan lulu’s. Alhamdulillah yaallah, betapa bersyukurnya Meta, aku dan kelurga
waktu itu.
Semester satu dan
dua di madrasah berlalu begitu saja oleh meta. Tanpa prestasi dan tanpa
peringkat kelas. Dan ketika ia dan nenek mengunjungiku ke kota waktu itu, aku
menertawakannya di depan teman-temanku dan mengatakan kalau dia tidak pernah menempatii
sepuluh besar sekalipun semenjak dari sekolah dasar.
Namun dia hanya senyum, dan mengatakan
dia akan membuktikan kalau dia juga bisa juara kelas . Aku pun hanya tertawa
kecil dan menjanjikan hadiah kepadanya kalau dia juara kelas, karena aku juga tidak
yakin dengan kata-katanya waktu itu.
Namun, suatu hal yang tidak
pernah aku duga sebelumnya benar-benar terjadi. Beberapa minggu setelah itu, Meta
menghubungiku dari rumah dan mengatakan kalau dia juara kelas, dia juga menagih
hadiah yang pernah aku janjikan kepadanya..
Huuhf,, aku lega, aku tersenyum
bahagia. Aku menepati janjiku dengan setumpuk rasa bangga kepadanya. ***
Dan saat aku menatap semangatnya
pagi ini. Aku merasa sangat terpacu. Meta bahkan bangun lebih awal dariku, shalat
lebih awal dariku, dan berangkat ke sekolah dengan senyuman penuh semangat dan
harapan.
Sepertinya dia benar-benar akan menjadi
musuh terbaikku. Aku bisa kuliah diperguruan tinggi negeri, dia pun juga harus
begitu. Dan akupun mulai merangkai mimpi tentangnya. Suatu saat aku akan mengunjunginya
ke Belanda. Karena dia akan melaksanakan studi disana. Meta akan belajar di
Belanda. Meta Martin .S, adikku. (Upssst, aku tak seharusnya memaksakan
kehendakku kepadanya. Bagaimananpun juga, dia lebih berhak untuk menentukan
pilihan hidunpnya).
Dan kali ini, aku benar-benar
menunggunya untuk cepat-cepat pulang
dari sekolah. Aku punya seribu kisah yang ingin aku sampaikan kepadanya.
Tentang hadiah juga. Hehee J
GOOD LUCK Adikku... J J J
kalau ado tombol like..
BalasHapusbang like mah sri..
keep writing :)