Angel
Usianya
sekitar 38 tahun.
Aku
memang tidak tahu pasti kapan ia dilahirkan. Nama lengkapnya saja aku masih
ragu. Apakah benar itu namanya. Yang pasti, namanya tidak seperti yang aku
panggil sekarang.
Aku
pun tidak terlalu mengenalnya. Apa lagu kesukaannya, apa buku favoritnya, kapan
pertama kali ia bertemu dengan pujaan hatinya, atau bahkan kapan ia bersatu
dengan pasangan hidupnya.
Tapi,
aku tau. Dia tau pasti, kapan aku hadir di bumi ini.
***
Dulu,
aku selalu bersama-sama dengannya. Hingga aku pandai baca-tulis dan shalat
sendiri. Tapi untuk alasan yang kurang aku mengerti saat itu, ia pergi. Angel
meninggalkanku. Tapi apapun itu, aku tau, Angel memiliki alasan untuk pergi.
Saat
Angel pergi, aku selalu berusaha untuk menjemputnya kembali. Aku membujuknya.
Dan Angel menolak, usahaku berujung sia-sia. Sampai sekarang, sudah Delapan
tahun aku tidak bersamanya. Angel tak pernah kembali. Untukku dan semua
kenangan yang pernah ada.
Sekarang,
hampir separuh dari umurku.
Angel.
Dulu tak jarang dia menjewer telingaku, atau bahkan pusarku hanya sekadar
menyuruhku untuk mandi. Terkadang ia memang menakutkan.
Tapi
Angel, ia akan memelukku dan sangat bangga kepadaku ketika aku juara kelas.
Aku
tau, Angel tidak mau aku sama seperti dirinya.
***
Angel.
Aku sekarang sudah 20 tahun. Usiaku sudah separuh usianya. Walaupun mungkin
tubuhku lebih tinggi dari dirinya untuk tubuhku yang dikategorikan rendah, tapi
di mataku Angel jauh lebih tinggi dibanding aku. Di mataku Angel sangat tinggi.
Angel.
Terkadang aku memang rindu pelukannya.
Aku
memang haus kasih sejak aku beranjak dewasa dulu. Sejak dia pergi bersama senja
sendu waktu itu. Angel, sangat lama rasanya ia tidak melakukan itu, berbeda
ketika aku belum pandai baca-tulis, untuk apa jadi juara kelas dan shalat
sendiri tempo dulu.
Tapi
sekarang aku sadar. Bukan angel yang harus memelukku, tapi aku yang harus
memeluknya. Dan bukan Angel yang harus menghapalkan tanggal-tanggalnya untukku,
tapi aku yang harus memberikan tanggal, waktu-waktu penting nan berharga dan
bersejarah baginya. Seperti aku juara kelas dulu.
Mungkin
itulah harapan terbesar Angel. Dan aku akan berusaha untuk merubah harapannya
menjadi nyata.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar